Ekspresi Cinta di Ruang Publik

•August 28, 2009 • 2 Comments

Kekerasan dibalik wajah agama semakin marak dihadirkan di ruang publik Jakarta. Bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, tembak menembak melawan teroris di Temanggung yang dihadirkan melalui televisi kepada publik Jakarta, pernyataan Abu Bakar Ba’asyir di media masa yang terbit di Jakarta tentang pemaklumannya atas bom di Marriot dan Ritz Carlton sebagai akibat negara yang tidak mau mengadopsi Syariah Islam, Buku “34 Kiat Mendukung Mujahidin” di terbitkan dan di jual di toko buku lokal dengan jaringan terluas di Jakarta, dan banyak lagi yang lain.  

Ruang publik yang seharusnya dijaga netral, demi kehidupan warga Jakarta aman dan damai, terus mengalami ancaman radikalisme.

Tepat pada malam ulang tahun Republik Indonesia ke 64, sebuah stasiun TV swasta menayangkan hiburan musik dimana seorang penyanyi kondang dengan jutaan penggemar menitipkan pesan kepada para penggemarnya: “Jalankan perintah agama, taati hukum, hidup adalah perjuangan”

Selintas mendengar, mungkin pesan tersebut wajar adanya. Namun setelah didera oleh teror bom dan penumpasan teroris, wajar pula bila kita menjadi sensitif dengan pesan agama yang disajikan di ruang publik apalagi jika pesan jalankan perintah agama diteriakkan  dalam setarikan nafas dengan perjuangan. Jihad menjadi sebuah momok bagi mereka yang menginginkan kedamaian.

Saya cenderung untuk melarang pesan agama di ruang publik, kecuali pesan itu mengenai cinta. Namun demikian larangan akan mengkhianati semangat demokrasi.

Indonesia telah mengadopsi konsep demokrasi dengan segala konsekuensinya. Kebebasan berekspresi dan berpendapat harus dijamin. Dalam iklim demokrasi, kita menjadi rikuh ketika harus melarang. Akibatnya kita rikuh untuk melarang Ba’asyir memaklumi pengeboman, rikuh membredel buku mengenai gerakan radikal, rikuh melarang peredaran buku melalui toko buku ternama. Toh, jika dilarang dengan suatu mekanisme, mereka akan menemukan jalannya sendiri. Bisa melalui media baru, seperti Blog, Twitter, Facebook, yang tidak bisa dibendung. Kini Indonesia sudah memasuki tahap jargon: “Dilarang Melarang” sebab larangan juga tidak akan efektif.

Lalu apakah demi menjaga ruh demokrasi kita harus membiarkan pesan agama yang penuh kebencian dan kekerasan terus menerus melanda ruang publik?

Tentu saja tidak.

Caranya?

Dengan memperbesar proporsi cinta  di ruang publik.

Kita biarkan ustad dengan kotbah radikalnya, namun kita harus memperbesar jumlah barisan orang yang menolak untuk mendengarkannya. Sehingga dia akan berbicara kepada relatif sedikit orang saja dan lama-lama dia akan berbicara di ruang kosong.

Kita biarkan buku radikal diterbitkan, namun kita harus memperbesar barisan orang yang mentertawakan isi buku tersebut dan juga meningkatkan penerbitan buku dan tulisan mengenai cinta dan perdamaian dan hal-hal positif yang berguna bagi kehidupan.

Alih alih penyanyi kondang diatas meneriakkan pesan agama dan perjuangan, ia kita himbau untuk  meneriakkan: “Jalankan perintah agama, hormati perbedaan, hidup adalah perjuangan untuk saling mencintai sesama”

Dengan memperbesar pesan cinta di ruang publik, maka proporsi pesan kekerasan menjadi relatif lebih kecil dibanding pesan cinta.

Namun demikian kita membuat ruang publik menjadi tidak netral, yaitu condong atau didominasi oleh cinta. Tidak apa. Siapa sih yang tidak mau cinta? Semua orang senang cinta, semua orang butuh cinta bukan?

Artikel ini dimuat di http://rujak.org/2009/08/cinta-di-ruang-publik/

Sisi Kelam Kehidupan

•August 9, 2009 • 2 Comments

Proses penumpasan teroris di Temanggung, membuat kita merenung mengenai perang kepada kejahatan yang selalu mewarnai kehidupan kita. Kehidupan kita selalu diwarnai dengan peperangan antara good dan evil. Di satu pihak, kita yang menciptakan identitas mayoritas sebagai “baik” bersorak untuk menolak pihak yang disebut sebagai “jahat”

Tentu saja kita tidak akan pernah membiarkan pihak-pihak seperti Hitler, PolPot, teroris untuk membunuh orang-orang yang tak bersalah demi mencapai tujuan mereka tanpa memperhitungkan akibat perbuatannya kepada para korban. Tindakan mereka kita sebut sebagai kejahatan.

Namun dilain pihak, kita perlu bertanya: apakah kita perlu bersorak atas matinya para penjahat? Bukankah sorak sorai itu menunjukkan adanya bibit kejahatan dalam diri kita sendiri? Yang tak memperdulikan akibat perbuatan kita kepada para penjahat itu?

Saya rasa, kita perlu melihat kembali nilai-nilai identitas mayoritas yang kita anut. Dalam hal nilai yang kita anut adalah melindungi mereka yang tak bersalah dari menjadi korban dan mencegah terjadinya pembunuhan masal, saya kira kita bisa menerima sorakan masyarakat. Namun kita perlu hati-hati terhadap efek dari perbuatan kita. Apakah kita tidak menyulut peperangan lagi di masa depan?

Saya kira dalam hal ini, saya optimis dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia dengan demokrasinya. Di Indonesia kita tidak melakukan represi terhadap mereka yang jahat. Bayangkan Malaysia punya Internal Security Act yang bisa memenjarakan orang tanpa batas waktu dan tanpa diadili jika dituduh jahat.

Represi yang merupakan tindakan reaktif yang menegasikan hak-hak orang yang dikategorikan jahat, bisa menyulut dendam, sakit hati dan menyulut peperangan lebih lanjut. Bangsa Indonesia tidak melakukan hal ini. Bangsa Indonesia dengan percaya diri mengadopsi demokrasi dengan segala konsekuensinya. Sungguh sebuah bangsa pemberani. Bangsa Indonesia tidak merepresi namun menyediakan mekanisme bagi mereka yang jahat untuk menerima konsekuensi dari kejahatannya. Ini adalah bukti bahwa bangsa Indonesia mempunyai kasih, menghormati mereka yang memiliki beragam kepercayaan, bahkan mereka yang kepercayaannya memiliki bibit jahat dan berbahaya.

Noordin M Top dan Dr. Azhari tidak mau hidup di Malaysia karena mereka menghadapi represi, tidak ada kasih bagi mereka di Malaysia. Andai saja pagi itu di Temanggung, mereka tidak melakukan perlawanan dengan senjata, tentu kini mereka akan menghadapi pengadilan. Dan jika mereka tidak terbukti bersalah, mereka akan dibebaskan. Bangsa Indonesia memiliki kasih, namun mereka melawan kasih itu dengan senjata. Konsekuensinya: mati.

Sungguh sedih. Sebuah sisi kelam kehidupan kita.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.